Ini Dia, Makna di Balik Lomba Peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus

2021-08-17 1

KOMPAS.TV - Perayaan HUT Republik Indonesia kurang lengkap tanpa deretan lomba yang digelar untuk menyambut hari kemerdekaan RI.

Tahukah kamu apa saja makna di balik tiap perlombaan? Berikut informasinya

1. Lomba makan kerupuk

Merupakan salah satu lomba pertama yang diadakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia di era 1950-an.

Kerupuk identik dengan makanan rakyat jelata di masa perang, sehingga lomba ini bertujuan untuk mengingatkan kepada masyarakat Indonesia, bahwa saat perang kondisinya sangat memprihatinkan dan sulit.

2. Lomba bakiak

Bakiak berbentuk seperti sandal dengan ukuran panjang yang biasanya diisi dua sampai tiga orang, dan tiap kelompok harus bergerak dengan kompak.

Pesan yang ingin disampaikan dari lomba ini adalah upaya gotong royong untuk mencapai kemerdekaan.

3. Lomba panjat pinang

Panjat pinang berasal dari zaman penjajahan Belanda, dulunya dikenal sebagai De Klimmast yang berarti memanjat tiang.

Walau banyak pro kontra, lomba panjat pinang mengandung pesan perjuangan bangsa Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan.

4. Lomba balap karung

Lomba balap karung menggambarkan kesulitan mendapatkan kain sebagai pakaian yang layak saat masa penjajahan.

Masyarakat Indonesia menjadikan karung goni sebagai alternatif pengganti pakaian, karena hanya karung goni yang mudah ditemukan dan dimiliki masyarakat Indonesia pada masa itu.

Menurut Heri Priyatmoko, sejarawan dan Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, perayaan lomba 17 Agustusan juga punya banyak manfaat positif.

"Selain ketangkasan, lomba itu juga menandakan adanya semangat gotong royong dan juga strategi. Tapi yang paling utama adalah permainan tanpa ada permusuhan," ujarnya seperti dikutip dari Kompas.com (13/8/2019)

Baca Juga: Cegah Penularan Covid, Pemkot Depok Larang Semua Kegiatan Perlombaan 17 Agustus yang Picu Kerumunan

https://www.kompas.tv/article/198263/cegah-penularan-covid-pemkot-depok-larang-semua-kegiatan-perlombaan-17-agustus-yang-picu-kerumunan

(*)

Grafis: Agus Eko